Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Berita Universitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Universitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2009

MENUJU KEBERSAMAAN HIDUP SEBAGAI UMAT BERAGAMA


Manusia seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Setelah menjalankan puasa sebulan penuh dengan keimanan dan keikhlasan sebagai bentuk pengabdian pada Tuhan, 1 Syawal adalah momentum baik dalam melebur dosa antarsesama manusia. Idul fitri bermakna kelahiran kembali seorang manusia pada fitrahnya. Fitrah di sini adalah kesucian, yaitu kesucian lahir batin. Menurut Dr. Quraish Shihab, halal bi halal merupakan tradisi khas dan unik bangsa Melayu sebagai hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.

Hari itu waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB, tak seperti biasa, gedung serba guna yang biasanya terlihat sepi, tampak berbeda. Beberapa orang berpakaian seragam putih dengan rompi coklat tampak sibuk mempersiapkan hidangan, beberapa orang yang berpakaian jas hitam juga terlihat memeriksa makanan yang sedang disiapkan. Beberapa orang mondar-mandir mengambil ini dan itu. Semua orang terlihat sibuk mempersiapkan acara tahunan ini. Ternyata, hari itu (30/9) Unesa tak mau ketinggalan menggelar halal bi halal bagi seluruh keluarga besar Unesa.


Tak Ada Batasan












Panitia
merancang halal bi halal ini sedemikian rupa, hingga membuat nyaman para undangan. Setelah memarkirkan kendaraan, pimpinan Unesa dan undangan masuk melalui pintu utama. Dari tempat parkir menuju pintu masuk gedung Serba Guna, terlihat panggung peralatan life music. Sebelum undangan datang, beberapa panitia mencoba Sound System.

Tepat pukul 10.00 WIB para undangan mulai ramai berdatangan, baik pimpinan universitas, senat, dan fakultas. Tak lama kemudian Rektor Unesa Prof. Dr. H. Haris Supratno beserta istri tiba di gedung yang baru direnovasi. Rektor yang juga mantan Ketua SNMPTN 2009 ini langsung menyalami penerima tamu. Setelah itu, Pak Haris (panggilan akrab Rektor Unesa, red.) langsung berjajar diikuti para pimpinan universitas, senat, dan fakultas. Mereka saling bersalaman sebagai tanda permintaan maaf. Jabat tangan pun akhirnya mengular panjang seiring dengan terus datangnya para undangan. Tak ada atasan dan bawahan, semuanya membaur menjadi satu.

Halal bi halal ini merupakan ajang berkumpulnya dosen dan karyawan Unesa, baik yang ada di kampus Ketintang, Lidah Wetan, maupun Gedangan. Dr. Hj. Lies Amin Lestari, M.A., M.Pd, berkata, Acara ini merupakan satu-satunya acara yang dapat mengumpulkan dosen dan karyawan se-Unesa untuk bersilaturahmi, karena itu saya selalu menyempatkan hadir.

Sebanyak 1800 undangan telah disebar. Uniknya tak hanya muslim yang hadir, dosen dan karyawan non-muslimpun banyak yang ikut dalam acara ini. Ketua Halal Bi Halal Unesa 2009, Budi Harso berkata, ”Acara Halal Bi Halal merupakan bentuk kebersamaan hidup antarumat beragama untuk saling menghormati. Karena itu kami mengundang seluruh dosen dan karyawan di Unesa tidak memandang jenis agama”.

Sebuah euforia yang indah ketika perbedaan bukanlah sebuah alasan untuk saling bermusuhan. Justru itu, perbedaan adalah alat untuk saling mengenal. Bukankah dalam surat Ar-rum Allah juga berfirman bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Begitu pula keberagaman dalam Unesa yang menimbulkan semangat untuk bekerja sama dalam menuju sebuah puncak kualitas yang tinggi.

Hidangan Penggugah Selera












Setelah melebur dosa, tak lengkap rasanya bila tidak menikmati hidangan yang telah disediakan panitia.
Setelah bersalaman, para undangan mulai menyerbu joglo-joglo makanan yang menggugah selera. Menu-menu makanan itu adalah soto daging, bakso campur, sate ayam ponorogo, salad buah cocktail, tak ketinggalan rujak cingur. Karmi, salah satu chef catering berkata, Kami memasak makanan itu semua pukul 04.00 WIB, sekitar pukul delapan kami mulai membawanya ke sini. Tujuh puluh koki dan pegawai kami libatkan dalam acara ini yang terbagi dalam tiga tugas, yaitu racik, service, dan produksi. Pegawai racik menyiapkan semua hal terkait masakan di dapur, pegawai service bertugas mengambilkan makanan untuk undangan di beberapa menu seperti bakso campur, lontong kikil, dan soto ayam, sedangkan pegawai produksi bertugas sebagai pengontrol dan penata makanan”.

Hidangan yang disediakan membuat undangan tetap bertahan di gedung Serba Guna. Sri Utami, sekuriti FBS berkata, ”Cobain semua ja, enak-enak” ucapnya. Nikmatnya hidangan juga membuat banyak orang ingin mencoba lebih dari satu menu, bahkan salah satu undangan mencoba 4 menu sekaligus.” saya sudah menghabiskan empat menu sekaligus yaitu bakso, sate, lontong kikil, juga es buah. Sekarang saya kekenyangan dan malas untuk beraktivitas”, kata salah satu undangan yang tidak mau disebutkan namanya.


Doorprize Berhadiah












Selain hidangan penggugah selera, ada lagi satu cara yang dilakukan panitia untuk membuat undangan betah berlama-lama di gedung Serba Guna yaitu pembagian doorprize. Sebelum masuk ke gedung Gema, undangan
harus mengisi daftar hadir terlebih dahulu. Setelah itu undangan akan diberi satu kupon yang berisi nama dan nama instansi. Setelah mengisinya, undangan memasukkan kupon kedalam kardus yang nantinya akan diundi. Peserta yang keluar namanya akan dipanggil maju ke atas panggung untuk menerima hadiah.

Ada beberapa hadiah utama yang disediakan panitia yaitu satu lemari es, dua unit TV 21 in, lima unit sepeda mini, tiga unit kipas angin standing, lima unit magic com, 5lima unit handphone Esia, tiga unit kipas angin duduk, 25 mukena dan 25 sarung juga disediakan panitia sebagai hadiah hiburan. Berbagai hadiah itu mampu membuat undangan tak lekas pulang.

Penantian mereka pun berbuah manis, banyak di antara mereka mendapatkan hadiah utama dan hadiah hiburan. Salah satu undangan yang beruntung adalah Supiah, S.E., staf administrasi Humas mendapatkan handphone Esia. Ibu muda ini tidak menyangka kalau ia akan mendapatkan doorprize untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir. ”Saya selalu beruntung dalam pengundian doorprize seperti ini. Tahun lalu saya dapat mukena, tahun sebelumnya saya dapat payung, dan tahun ini saya dapat handphone Esia,” katanya.

Namun nasib baik tak berpihak pada Nanda. Reporter magang Humas ini harus gigit jari karena ketika panitia memanggil namanya berkali-kali ia tidak ada di tempat sehingga ia pun harus merelakan magic comnya lepas dari tangannya. “Setelah bersalaman dengan rektor beserta jajarannya, ada tugas wawancara, karena itu aku meninggalkan gedung. Setelah kembali aku baru tahu kalau namaku dipanggil panitia berkali-kali untuk mendapatkan hadiah. Ya, mungkin kali ini bukan rejekiku,” kata mahasiswa sosiologi ini. Sementara itu, hadiah utama pertama diperoleh Wiranto Arya Wijayadi, SE., M. Si. dosen FIK.

Seusai pengundian hadiah utama berakhir, euforia halal bi halal warga Unesa terlihat nyata. Ini membuktikan bahwa keberagaman pun tak membuat kita saling bersitegang. Justru itu, keberagaman dan perbedaan membuat kita saling bekerja sama untuk mewujudkan visi dan misi Unesa.


Alfanita Zuraida

UNESA KEKURANGAN DOSEN ICT


Dunia pendidikan terus berupaya mengikuti perkembangan dan tuntutan global. Tak terkecuali praktik pembelajaran di perguruan tinggi. Penggunaan Information Comunication Technology (ICT) dalam pendidikan tinggi dapat dijadikan sebagai alternatif untuk penyelenggaraan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Karena itu tenaga edukasi yang membidangi ICT kini dibutuhkan banyak perguruan tinggi. Unesa sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan pun membutuhkan banyak tenaga di bidang ini. Kamis (15/10) ujian tulis CPNS diadakan di auditorium rektorat dalam rangka memenuhi kekurangan tenaga dosen dan teknisi.

Tahun ini Unesa menerima 27 CPNS baru dengan berbagai formasi. Mulai dosen FIP, FBS, FMIPA, FIS, FT, FIK, FE, hingga tenaga akuntansi dan ICT. ”Tingkat kompetisi CPNS di Unesa tahun ini lebih ketat daripada tahun lalu. Tahun ini terdapat 134 peserta ujian namun hanya 27 yang akan diambil sebagai PNS. Berbeda dengan tahun lalu, jumlah peserta ujian CPNS sebanyak 127 dan yang diambil sebanyak 51 orang. Yang sangat memprihatinkan dalam proses seleksi CPNS dari tahun ke tahun ialah lowongan PNS dosen bidang ICT yang selalu tak dapat memenuhi kuota. Tahun ini formasi dosen ICT di Unesa ada tiga, namun hanya ada satu dosen yang mendaftar. Hal ini membuat kami tak ada pilihan dalam proses seleksi,” tutur Yakup, S.Sos., M.M. Kepala Kepegawaian saat mengawasi ujian tulis CPNS 2009 Unesa.

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut mengenai solusi kekurangan tenaga dosen itu, bapak yang berkantor di kantor pusat Unesa kampus Ketintang ini mengatakan bahwa dengan terpaksa dosen yang telah ada saat ini terus mendapatkan beban tugas mengajar lebih banyak. ”Sedikitnya pendaftar CPNS dosen bidang ICT ini tidak hanya terjadi di Unesa. Di berbagai perguruan tinggi lain pun keadaannya relatif sama. Yang membuat sedikit pendaftar CPNS bidang ICT itu disebabkan tidak banyak orang yang memiliki riwayat pendidikan S1 dan S2 secara linier. Kalaupun ada ia telah bekerja sebagai tenaga ICT di perusahaan swasta,” ujar Kepala Bagian Kepegawaian.

Setelah ujian tulis yang terdiri atas tes pengetahuan umum dan bakat skolastik hari ini, hasil ujian tahap pertama ini akan diumumkan pada 30 Oktober 2009. Kemudian pada 2 Oktober 2009 ujian tahap kedua yakni tes substansi konsentrasi bidang studi, lalu pada 3 Oktober 2009 ujian tahap ketiga, yakni tes praktik mengajar, wawancara, dan kemampuan berbahasa Inggris.


Bayu Dwi Nurwicaksono

Rabu, 14 Oktober 2009

SHARE WALIKOTA PADA ADIK-ADIK KELASNYA

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unesa boleh berbangga. Bagaimana tidak, kota tempat berdirinya kampus eks-LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) ini dipimpin alumnus terbaiknya. Ya, Drs. Bambang Dwi Hartono, M.Pd., alumnus S1 Pendidikan Matematika IKIP Negeri Surabaya dan S2 Pendidikan Matematika Pascasarjana Unesa merupakan Walikota Surabaya dua periode berturut-turut. Pagi itu, Rabu (14/10) auditorium FMIPA tampak ramai didatangi mahasiswa. Tak lama setelah itu sang kakak kelas masuk ruang dominan warna biru itu didampingi teman sepermainannya, Prof. Dr. Megah Teguh Budiarto, M.Pd., yang kini jadi Pembantu Dekan I FMIPA Unesa.

“Dulu saat di kampung, saya jadi ketua karang taruna di Trenggalek dan Pak Bambang D.H. ini menjadi sekretaris saya. Dulu saat kuliah di kampus ini pun, kami pernah punya kebiasaan ngangsu bersama. Dulu susah payah mengawali hidup di kota. Kini beliau malah jadi walikota. Ini membuktikan bahwa alumnus kita pun bisa bersaing di era global. Karena itu, pada pagi hari ini, kami mendatangkan alumnus guna sharing tentang karir dan peluang kerja untuk adik-adik mahasiswa,” tutur Guru Besar FMIPA bidang geometri ini saat mewakili Dekan FMIPA dalam memberikan sambutan.

Setelah itu, curhat walikota kepada adik-adik kelasnya pun dimulai. Bambang menekankan bahwa yang membuat seseorang sukses itu tidak hanya kemampuan secara intelektual. Namun lebih dari itu, yang membuatnya kini dapat memimpin Kota Surabaya ialah kemampuan manajerial dan keberanian berinisiatif serta mengambil resiko. “Kita tidak kalah kok dengan lulusan perguruan tinggi lain. Yang penting kita harus selalu menyiapkan diri dan percaya diri terhadap kemampuan kita,” ujarnya bersemangat.

Tak hanya memotivasi adik-adik kelasnya, Bambang pun mensharingkan suka dukanya menjadi walikota kota terbesar kedua di Indonesia ini. Mulai suka citanya berhasil mengantarkan kembali Surabaya sebagai kota Adipura Kencana, suka citanya dapat belajar dari negeri seberang tentang pengelolaan kota-kota besar di dunia, hingga duka nestapanya dicaci maki warga karena kebijakannya yang kurang populer bagi sebagian orang tentang penataan stan PKL, rumah kumuh di sepanjang setren Kali Surabaya, dan lain-lain.

Pada akhir waktu sharingnya, Bambang memohon maaf jika hal-hal yang disampaikan kurang memberikan informasi tentang peluang kerja. Ia berjanji akan menugaskan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Surabaya untuk memberikan informasi dan peluang kerja baru pada mahasiswa Unesa. Seusai share bersama adik-adik kelasnya, Bambang langsung diburu wartawan media massa se-Surabaya terkait dengan kebijakan walikota tentang upah minimum untuk kebutuhan hidup layak (KHL) pekerja di Surabaya.

Bayu Dwi Nurwicaksono

Jumat, 28 Agustus 2009

Pusat Kebudayaan Perancis Hadirkan Accrocrap di Sawunggaling


Pusat Kebudayaan Prancis atau Center Culturel et de Cooperation Linguistique (CCCL) Surabaya merupakan salah satu dari 430 lembaga Prancis (Institut Prancis, Pusat Kebudayaan Prancis dan Alliances Françaises). Lembaga ini merupakan kepanjangan tangan dari Kedutaan-kedutaan Besar Prancis yang tersebar di lebih dari 150 negara. Dinamika dan luasnya jaringan ini menjadikan lembaga-lembaga kebudayaan Prancis yang ada di dunia sebagai jembatan perantara yang menghubungkan budaya di dunia dimana kerja sama merupakan sebuah kunci utama.

Dalam rangka Festival Musim Semi Prancis 2009 yang kini tengah diperingati di negara yang terkenal dengan menara Eifelnya ini, CCCL mengadakan sebuah pertunjukan tari Prancis yang ditampilkan oleh Accrorap, kelompok hip-hop yang sedang naik daun di Prancis. Peringatan festival ini tidak hanya diadakan di Indonesia tetapi juga di negara Asia lain seperti di Vietnam, Hongkong, Filipina, dan Thailand. Di Indonesia sendiri peringatan festival ini diadakan pada (31/5) di Gedung Sawunggaling Unesa Surabaya. Sehari sebelum tampil, kelompok tari yang pernah meraih penghargaan "Prix Mimos" dalam fesitval tari 2008 itu memberikan pelatihan tentang gerakan dasar tarian hip hop kepada puluhan mahasiswa Seni Tari Unesa dan beberapa anggota grup tari dari Surabaya dan Malang di salah satu ruang CCCL Surabaya.

Ada sebuah kisah menarik di balik tarian Prancis yang di koreograferi oleh Kader Attou (juga sebagai penari). Tarian yang bertema keinginan atau impian masa kanak-kanak itu teridiri dari fragmen-fragmen tentang kisah masa kecil yang saling berhubungan. Ada sebuah harapan dalam tari itu membawa orang yang menontonnya akan lebih terinspirasi untuk menghargai atau menganggap penting harapan di masa kanak-kanak itu. Semoga harapan itu tetap ada pada diri orang yang telah dewasa dan orang yang bersangkutan dapat mewujudkan impian masa kecilnya itu.

Menurut Pramenda Krishna A, salah satu panitia pagelaran tari Prancis malam itu, ini adalah kali kedua CCCL bekerja sama dengan Unesa menampilkan tari Prancis di sana. Sebelumnya CCCL juga pernah mengadakan pertunjukan tari tahun 2004 dengan kelompok tari yang sama. Gedung Sawunggaling Unesa merupakan gedung yang sangat representatif untuk menampilkan seni, ini adalah sebuah alasan yang membuat panitia memilih gedung kebanggan warga Unesa ini.

Dengan pagelaran tari Prancis ini, diharapkan dapat menjalin persahabatan yang erat antara masyarakat Indonesia dan Prancis. Selain itu kesenian ini juga sebagai ajang untuk saling menularkan wawasan antardua negara yang berbeda. Beragam misi (bahasa, budaya, ilmiah, universitas dan audiovisual) yang diemban jaringan ini memberi citra kehidupan Prancis masa kini di luar negeri, semuanya dilakukan dengan dialog dengan negara-negara di mana lembaga kebudayaan Prancis berada, di mana kerjasama tetap menjadi kunci utama.

Alfanita Zuraida

Unesa - UKM Kembangkan Kurikulum RSBI Sains & PAUD

Surabaya (17-19/3) Unesa kedatangan tamu dari negeri jiran. Mereka adalah profesor dan doktor Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Delapan orang dari Malaysia itu adalah Prof. Dr. Kamisah Osman, Prof. Dr. Subhan Mohamad Merah, Prof. Dr. Lilia Halim, Prof. Dr. Rohaty, Prof. Dr. Halijah Mohamad Saleh, Dr. Arbaat Hasan, Dr. Effendi Zakaria, dan Encik Mohamad Yusuf Daud. Kedatangan dosen dari negeri seberang tersebut untuk mengembangkan kurikulum Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) pada pendidikan sains dan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Unesa.

Saat ini secara resmi Unesa telah dipercaya oleh Ditjen Dikti untuk menyelenggarakan pendidikan S-1 kelas internasional untuk bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) sekaligus dipercaya mendampingi sekolah-sekolah berstandar internasional dari berbagai jenjang se-Jawa Timur. Prof. Dr. Haris Supratno, Rektor Unesa mengatakan, “Seminar implementasi kerjasama ini merupakan kelanjutan kunjungan kerja (kunker) kami ke Malaysia beberapa waktu yang lalu. Kami ingin membuktikan bahwa kunjungan kerja ke luar negeri tersebut tidak hanya berhenti di lembar kerjasama. Oleh karena itu, saat ini diadakan seminar implementasi kerjasama dengan topik mengembangkan kurikulum RSBI Sains dan PAUD.”

Masih pada sambutannya, rektor yang telah memimpin Unesa selama dua periode ini menambahkan bahwa kesempatan kerjasama ini diharapkan juga menambah poin plus Unesa menuju world class university (WCU) dengan diadakannya pertukaran dosen, mahasiswa, penelitian bersama, dan penerbitan hasil penelitian pada jurnal ilmiah internasional oleh kedua universitas.

Pada pertemuan yang diadakan di auditorium rektorat tersebut Prof. Dr. Subhan Mohamad Merah, ketua rombongan UKM juga menyambut baik kerjasama ini, bahkan dosen yang selama berseminar di Unesa ini juga akan bekerjasama dalam pengembangan sarana dan prasarana serta pengembangan Information Comunication Technology (ICT).

Bayu Dwi Nurwicaksono

Unesa Dukung Ajang Kreativitas Mahasiswa


Kualitas perguruan tinggi ditentukan oleh seberapa banyak mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ilmiah nasional. Dirjen Dikti mensyaratkan harus ada data kuantitif tentang jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan ilmiah nasional. Hal tersebut menyebabkan Unesa gencar mengadakan pelatihan-pelatihan ilmiah. Salah satunya adalah pelatihan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

PKM adalah ajang kreativitas mahasiswa yang diadakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional untuk membuka peluang mahasiswa dalam berkarya seluas para dosennya. PKM itu sendiri dibagi menjadi empat jenis PKM Penerapan, antara lain: PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Karya Tulis (PKM-KT) yang terdiri dari PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT) sesuai dengan sumber bahan penulisannya. Sesuai dengan sifat artikel yang dihasilkan, maka PKM-AI akan bermuara pada Jurnal Kreativitas Mahasiswa, sedangkan PKM-GT dan ke empat jenis PKM penerapan lainnya akan bermuara di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Untuk mendapatkan tiket menuju PIMNAS, PR III mengadakan pelatihan PKMKT (PKM-GT dan PKM-AI) di salah satu hotel Tretes pada Jum'at-Sabtu (6-7/3) yang diikuti 43 mahasiswa dan pelatihan PKM penerapan pada Rabu-Jumat (11-13/3) di Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) yang diikuti oleh 93 mahasiswa perwakilan dari masing-masing jurusan di Unesa. “Sebenarnya pelatihan penyusunan proposal PKM ini bukanlah hal baru, karena sudah mulai dilakukan pada tahun 2007 lalu di hotel Inna Tretes”, ungkap Prof. Nyoman.


PIMNAS merupakan ajang yang sangat penting bagi perguruan tinggi di Indonesia, untuk dapat sampai kesana melewati proses yang begitu ketat. Mulai dari seleksi proposal, monitoring bagi proposal yang di danai, sampai seleksi menuju PIMNAS. Dikarenakan hal tersebut itulah, tidak puas melatih mahasiswanya Unesa juga melatih para dosennya sebagai pembimbing penalaran. Kemudian dibentuk tim penalaran universitas yang terdiri dari 7 orang dosen, masing-masing tersebar di tiap fakultas. Tim penalaran ini bertugas untuk mengontrol dan memotivasi mahasiswanya dalam mengikuti ajang-ajang ilmiah. “Sehingga yang berkewajiban memajukan Unesa bukan hanya pihak rektorat saja, tetapi kewajiban semua pihak”, pendapat pak Nyoman. Dengan diadakannya pelatihan PKM bagi mahasiswa dan dosen ini, serta dibentuknya tim penalaran Unesa diharapkan semakin banyaknya mahasiswa Unesa yang dapat mengikuti ajang-ajang ilmiah nasional.

Fithri Amaliyah

Mahasiswa IKIP Mataram Belajar Kepada Ormawa Unesa


20 mahasiswa IKIP Mataram berkunjung ke Unesa (16/3). Maksud kedatangan mereka untuk bertukar ilmu dalam bidang kemahasiswaan. Ke-20 mahasiswa tersebut merupakan perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa dan Dewan Perwakilan Mahasiswa IKIP Mataram yang didampingi Pembantu Rektor III.

Pembantu Rektor III Unesa, Prof. Dr. I Nyoman Adika, M.S. dan tujuh Pembantu Dekan III se-Unesa menyambut kedatangan rombongan dari provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut di ruang sidang Lembaga Penelitian (Lemlit). Setelah bertukar pengalaman dan informasi, rombongan dari pulau Nusa Tenggara tersebut diajak berkeliling ke dua kampus Unesa, yakni Kampus Ketintang dan Lidah Wetan.


Tak ketinggalan pula mereka juga diajak berkunjung ke SSFC (Sport Science and Fitnes Center) dan kolam renang Unesa yang berstandar internasional. Pembantu Rektor III IKIP Mataram, Dr. Ir. H. Syamsuhadi, M.S. berkata, “Dengan adanya studi banding yang kali pertama diadakan ini, saya berharap pada mahasiswa dapat berpikir lebih kritis yang edukatif dan semoga studi banding ini dapat menjalin kerjasama yang lebih luas, misalnya dalam bidang keolahragaan.”

Wahyu Nurul Hidayati

Mahasiswa Kebangsaan Malaysia Magang di Unesa


Unesa kedatangan empat mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada (13/3). Keempat mahasiswa itu masing-masing Jurusan Matematika, Biologi, Fisika, dan Kimia. Kedatangannya merupakan survei kegiatan magang empat mahasiswa tersebut di Unesa. Mereka akan magang mulai Mei-Juni 2009. Dengan didampingi pihak Unesa, mereka yang mahasiswa Jurusan Matematika dan Fisika berkunjung ke SMPN 6 Surabaya dan mereka yang mahasiswa Jurusan Kimia dan Biologi berkunjung ke SMP Al-Hikmah Surabaya. Kedua sekolah itu dipilih karena merupakan sekolah yang telah menerapkan program sekolah berstandar internasional selama 6 tahun.

Ternyata masih terdapat 8 mahasiswa UKM yang juga akan magang di Indonesia, yakni 4 mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan 4 mahasiswa di Universitas Riau (Unri). “Guna menindaklanjuti kegiatan ini, tim dosen dari Universitas Kebangsaan Malaysia juga akan berkunjung ke Unesa untuk menyusun memorandum of understanding pada 17 Maret 2009,” ujar Prof. Dr. Mega Teguh Budiarto, M.Pd., Pembantu Dekan I FMIPA Unesa.

Wahyu Nurul Hidayati

Rabu, 06 Mei 2009

Training untuk Pelatih Indonesia undang Charles Sturt University


Membangun kualitas Sumber Daya Manusia melalui peningkatan kualitas pelatih-pelatih fisik olahraga Indonesia adalah tema yang diambil untuk acara yang berlangsung selama 5 hari berturut-turut (21-25/4) ini. Bertempat di Achilles SSFC Unesa dan dimulai pukul 08.00-16.00 WIB mengundang 2 pelatih profesional asal Australia, Mr. Ben (mantan atlet profesional Track and Field), Mr. Bird (mantan atlet profesional Combat Sport) dan Mr. Fahmi (sebagai pendamping sekaligus translator).

Menurunnya kualitas para pelatih kita membuat Menegpora merasa perlu bekerja sama dengan Unesa bersama dengan Charles Sturt University salah satu University di Autralia untuk melakukan sertifikasi untuk pelatih-pelatih Indonesia. “Kualitas pelatih olah raga khususya pelatih fisik dirasa kurang dan standarnya masih rendah, maka kementrian Negara Pemuda dan Olahraga dari asisten Deputi Peningkatan SDM bekerja sama dengan Unesa melakukan pelatihan dengan level 1 Internasional khusus yang disebut dengan Strenght Conditioning”, jelas Prof. Hari. “We are trying to help them in the area of conditioning and strength development, the athlete very skilful techniquelly but we are trying to help them with the physical preparation for their sport and all the new idea of the things develop around the sport,” Mr. Ben memaparkan.

Lebih lanjut Direktur Achiles SSFC Prof. Hari menjelaskan bahwa tujuan dari acara ini adalah membangun kualitas pelatih olahraga untuk menuju peningkatan prestasi olahraga nasional. “Mereka dipersiapkan untuk melatih dipusat pembinaan dan pelatihan pelajar, kemudian untuk melatih mahasiswa diarahkan untuk olahraga prestasi yang ada dibawah Koni.” Dalam pelatihan ini juga dijelaskan bagaimana melatih fisik yang benar. “Helping them with designing their training programmes, looking at implementing new recovery technique for the athlete, helping recover from a training, looking at a new nutritional strategy that taking implement with their athlete,” Mr. Bird menambahkan.

Pelatihan yang didanai sepenuhnya oleh Menegpora ini diikuti oleh 21 peserta yang lolos seleksi dari seluruh Indonesia. Beberapa kriteria yang diperlukan untuk lolos seleksi pelatihan adalah mereka yang mendapat rekomendasi, paham bahasa Inggris, menangani cabang olahraga prestasi, melakukan pembinaan secara berkesinambungan, dan juga background study mereka. “Peserta yang melalui seleksi seluruhnya 21 orang dengan biaya perorang lebih dari 5 juta rupiah”, tegas Prof. Hari.

Herlina M. Arief

Tiga Guru Besar Baru Dikukuhkan


Kamis (26/02), tiga guru besar Unesa dikukuhkan. Mereka adalah Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And. yang terhitung menjadi guru besar sejak 30 April 2005; Prof. Dr. Kisyani Laksono yang terhitung menjadi guru besar sejak 1 April 2007; dan Prof. Dr. Budi Jatmiko, M.Pd. yang terhitung menjadi guru besar sejak 1 Oktober 2007. Di Gedung Serbaguna Kampus Ketintang, tiga guru besar tersebut dikukuhkan. Dalam prosesi pengukuhan itu, mereka menyampaikan orasi ilmiahnya.

Guru dan Pendidikan Seks
Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And. menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Pendidikan Seksual Dini secara Terintegrasi dan Peran Guru”. Menurutnya, salah satu pendidikan yang memberikan bekal jangka panjang kepada siswa dalam kehidupannya adalah pendidikan seks. Pemahaman yang benar terhadap pendidikan seks akan membimbing siswa dalam pembentukan keluarga yang sehat dan pembentukan moral yang tangguh terhadap pelanggaran hukum dan agama. Selama ini, pendidikan seks di Indonesia tidak diberikan secara formal di sekolah karena masalah seks dianggap tabu untuk dibicarakan. Akibatnya saat ini banyak kenakalan remaja yang disebabkan oleh pendidikan seks yang salah. Anak-anak sering mendapatkan informasi yang salah tentang pendidikan seks.

Pendidikan seks secara formal di sekolah dapat memberikan informasi yang benar tentang pendidikan seksual secara dini dan benar. Dengan cara ini guru dapat mengurangi dampak negatif ‘buta pemahaman’ tentang seks pada siswa. Guru sebagai penyampai pesan tentang pendidikan seksual dapat melaksanakan tugasnya dengan mengintegrasikan pendidikan seksual dengan mata pelajaran yang dibinanya, seperti IPA di sekolah dasar dan SMP, serta Biologi di SMA.

Pendidikan seks tepat dikaitkan dengan kesehatan reproduksi yang dapat disampaikan oleh guru agama dan pendidikan moral, guru olahraga dan kesehatan, guru bioteknologi dan teknologi reproduksi atau melalui IPA terpadu, pelajaran ilmu alamiah dasar dan sebagainya. Pendidikan seks harus diberikan secara terencana sesuai dengan keadaan dan kebutuhan siswa dengan memasukkannya dalam rencana pembelajaran.

Bahasa Daerah di Tengah Peradaban Modern
Prof. Dr. Kisyani Laksono menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Bahasa Daerah di Indonesia Meretas Jalan untuk Bertahan Hidup dan/atau Berkembang”. Menurut Summer Institute of Linguistics/ SIL (2006), Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah bahasa daerah terbanyak kedua di dunia, yakni sebanyak 741 bahasa. Posisi pertama diduduki oleh Papua New Guinea yang memiliki bahasa daerah sebanyak 820 bahasa.

Bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena ditinggalkan penuturnya sebagai akibat globalisasi dan perkembangan teknologi.Bahasa daerah memang telah mengalami berbagai perubahan akibat perkembangan teknologi informasi yang mampu menembus batas-batas ruang. Perkembangan tataan baru kehidupan dunia dan teknologi informasi yang semakin sarat dengan tuntutan dan tantangan globalisasi telah mengondisikan dan menempatkan bahasa asing pada posisi strategis yang memungkinkan memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa memengaruhi perkembangan bahasa daerah dengan mendesak dan memudarkannya.

Komposisi jumlah penduduk merupakan hal yang menentukan kelestarian bahasa daerah. Jumlah penutur yang banyak membuat bahasa daerah mampu bertahan hidup dan berkembang. Sementara itu, bahasa yang bertahan hidup atau sangat kritis ialah bahasa ibu. Pemeliharaan bahasa ibu dapat diwujudkan dengan pengembangan bahasa tersebut agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat pendukungnya dengan cara memekarkan kosakata dan kodifikasi berupa penyusunan pedoman ejaan, kamus, dan tata bahasa. Bahasa yang termasuk berkembang adalah bahasa Jawa.

Di tengah peradaban modern ini peretasan jalan bagi bahasa daerah untuk bertahan hidup dan/atau berkembang dapat dilakukan dengan cara (1) melakukan pendokumentasian, (2) melakukan pembiasaan dalam berbicara dan menulis, (3) melakukan kreativitas dalam penggunaan bahasa, (4) melakukan penyerapan kosakata bahasa lain, (5) menyumbangkan kosakata bahasa daerah, (6) dan melakukan penyusunan modul bahasa daerah. Masa Depan

Kurikulum Sains-Fisika
Prof. Dr. Budi Jatmiko, M.Pd. menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul “Kurikulum Sains-Fisika Masa Depan”. Menurutnya, secara substansi kurikulum sains-fisika hendaknya mencakup empat unsur sains, yaitu sikap, produk, proses, dan aplikasi yang disusun dan diimplementasikan sesuai dengan hakikat sains itu sendiri. Kurikulum sains-fisika tidak hanya mencakup alam semesta beserta isi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya, tetapi juga pemerolehan metode sains-fisika dan cara sains-fisika dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat manusia; kerja ilmiah yang diberikan kepada siswa sejak duduk di bangku kelas 1 sampai kelas 12; dan menekankan pembelajaran inkuiri, kontekstual, dan pemecahan masalah.

Terkait dengan proses pembelajaran, kurikulum sains-fisika diarahkan kepada pembelajaran berbasis penyelidikan ilmiah; pembelajaran berpusat pada siswa; pembelajaran menggunakan sumber belajar kontekstual di sekitar lingkungan sekolah yang didesain oleh para guru sains; proses pembelajaran mengarah pembekalan kompetensi berdasarkan fakta-fakta yang menyertainya; pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual untuk mengembangkan kemampuan menganalisis dan menafsirkan data dan informasi serta menarik kesimpulan.

Penilaian kurikulum sains-fisika dilakukan secara komprehensif yang meliputi sikap, proses, produk, dan aplikasi. Penilaian autentik dan kontekstual, penilaian kinerja, dan penilaian terhadap pengetahuan tingkat tinggi dan pemecahan masalah juga digunakan. Di samping itu, juga digunakan penilaian terhadap literasi sains sebagaimana yang dilakukan oleh Program for International Student Assesment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Bayu Dwi Nurwicaksono

Kamis, 30 April 2009

Unesa Siapkan Mahasiswa Menulis Ilmiah dan Susun Proposal PKM


Kualitas suatu perguruan tinggi ditentukan dari seberapa banyak karya tulis yang dihasilkan dari perguruan tinggi tersebut. Itulah keputusan mentri pendididkan nasional (Mendiknas) yang memutuskan banyaknya karya tulis dosen dan mahsiswa sebagai ukuran kualitas perguruan tinggi. Keputusan tersebut juga terkait dengan era Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Hukum Pemerintah (BHP). Hal tersebutlah yang melatarbelakangi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) khususnya Prof. Dr. I Nyoman Adika, M.Si. Pembantu Rektor III (PR III) gencar mengadakan pelatihan-pelatihan ilmiah. Salah satunya adalah pelatihan Progam Kreativitas mahasiswa (PKM).

PKM adalah ajang kreativitas mahasiswa yang diadakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional untuk membuka peluang mahasiswa dalam berkarya seluas para dosennya. PKM itu sendiri dibagi menjadi PKM Penerapan yang terdiri dari empat jenis, antara lain: PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Karya Tulis (PKM-KT) yang terdiri dari PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis (PKM-GT) sesuai dengan sumber bahan penulisannya. Sesuai dengan sifat artikel yang dihasilkan, maka PKM-AI akan bermuara pada Jurnal Kreativitas Mahasiswa, sedangkan PKM-GT dan ke empat jenis PKM penerapan akan bermuara di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Untuk mendapatkan tiket menuju PIMNAS, tidak tanggung-tanggung PR III mengadakan Diklat dan Workshop Penulisan Ilmiah(PKM-GT dan PKM-AI) di salah satu hotel Tanjung Plasa Tretes pada Jum’at-Minggu (5-7/3) yang diikuti 43 mahasiswa dan pelatihan PKM penerapan pada Rabu-Jumat (11-13/3) di Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) yang diikuti oleh 93 mahasiswa perwakilan dari masing-masing jurusan di Unesa. Selanjutnya mahasiswa yang mengikuti pelatihan ini berkewajiban membuat karya tulis, yang nantinya tugass ini akan dikontrol dari pihak fakultas. Pelatihan PKM inin dirintis mulai tahun 2007, “Sebenarnya pelatihan penyusunan proposal PKM ini bukanlah hal baru, karena sudah mulai dilakukan pada tahun 2007 lalu di hotel Inna Tretes”, ungkap orang yang akrab disapa pak Nyoman tersebut ketika diwawancarai reporter Humas (16/3) di ruang kerjanya. Pelatihan ini berdampak pada meningkatnya kualitas penulisan PKM mahasiswa sampai 25% dibanding dengan tahun sebelumnya yang belum mendapat pelatihan dan Unesa sudah memenuhi target nasional.

PIMNAS merupakan ajang yang sangat penting bagi perguruan tinggi di Indonesia, untuk dapat sampai kesana melewati proses yang begitu ketat. Mulai dari seleksi proposal, monitoring bagi proposal yang di danai, sampai seleksi menuju PIMNAS. Dikarenakan hal tersebut itulah, tidak puas melatih mahasiswanya Unesa juga melatih para dosennya sebagai pembimbing penalaran. Kemudian dibentuk tim pendamping universitas yang terdiri dari 7 orang dosen, masing-masing tersebar di tiap fakultas. Tim penalaran ini bertugas untuk mengontrol dan memotivasi mahasiswanya dalam mengikuti ajang-ajang ilmiah. Tim ini juga bertugas untuk memotivasi proposal PKM mahasiswa yang telah lolos didanai untuk segera dikerjakan.“Sehingga yang bertanggung jawab membantu mengangkat nama Unesa adalah seluruh civitas akademika”, pendapat pak Nyoman. Dengan diadakannya pelatihan ini, diharapkan peserta mampu membuat karya tulis PKMKT dan PKM penerapan.

Fithri Amaliyah

Unesa Bantu Mahasiswa Berwirausaha


Lulusan sarjana saat ini cukup banyak menciptakan pengangguran dari pada menciptakan lapangan pekerjaan. Padahal selama ini oleh masyarakat, sarjana diyakini sebagai orang yang mampu berpikir analitis dan mampu menciptakan perubahan di masyarakat, akan tetapi ternyata mereka belum mampu membantu dirinya sendiri. Seharusnya sarjana yang dikenal sebagai problem solving mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, bukan malah menambah angka pengangguran. Fenomena pengangguran sarjana terjadi karena tidak terlepas dari seberapa besar konstribusi perguruan tinggi pencetak lulusan sarjana yang umumnya lebih mempersiapkan lulusan perguruan tinggi menjadi pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan kerja (job creator). Melihat hal tersebut, Dr. Purwohandoko, M.M. Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi (FE) mengajukan proposal Progam Pengembangan Soft Skill Mahasiswa melalui Pembelajaran Kewirausahaan ke Ditjen Dikti. Tujuannya adalah untuk mengembangkan soft skill mahasiswa Unesa melalui pembelajaran kewirausahaan. Proposal tersebut disambut baik oleh Dikti dan di beri dana sebesar satu (1) Milyar. Kemudian dana tersebut akan dibagi pada masing-masing fakultas secara proporsional melalui pelaksanaan progam tersebut. Unesa adalah Universitas di Indonesia yang pertama kali mengadakan progam tersebut.

Menindaklanjuti progam tersebut, Sabtu (18/4) di ruang auditorium rektorat lantai III Unesa, rektorat mengundang 210 mahasiswa pada acara “Model Pengembangan Soft Skill melalui Pembelajaran Kewirausahaan dan Rintisan Pusat Pengembangan Kewirausahaan (Centre of Entrepreneurship) Dalam Rangka Meningkatkan Income Generating di Unesa” untuk pengarahan dan seleksi awal. Ke-210 mahasiswa Unesa tersebut adalah mahsiswa yang diajukan oleh Fakultas untuk mendapatkan modal dana untuk berwirausaha. Seleksi awal ini bertujuan untuk menggali sebrerapa jauh ke 210 mahasiswa tersebut memiliki jiwa entrepreneur. Seleksi kali ini dilakukan melalui 2 test yakni test pengukuran potensi kewirausahaan dan test kecenderungan cara berfikir, berjiwa entrepreneurkah atau tidak yang dilakukan dengan pengisian angket. ”Dari test ini dapat diketahui mahasiswa manakah yang proaktif dalam artian mahasiswa yang mempunyai jiwa entrepreneur”, jelas Dr. Purwohandoko, M.M selaku ketua pelaksana di akhir acara.

Setelah itu, pada tanggal 25 April di ruang auditorium rektorat lantai III Unesa dan 26 April di ruang kelas FE acara ini ditindak lanjuti dengan pelatihan kewirausahaan. Pelatihan kewirausahaan ini berisi 5 materi, antara lain : Emosional Intelegensi, potensi diri, kewirausahaan, pengelolahan usaha dan bisniss plan. Dari pelatihan ini, ke 210 mahasiswa tersebut akan ditugasi membuat Bisniss Plan yang diberi waktu selama seminggu,untuk kemudian dilakukan proses seleksi lanjutan oleh panitia, PD III dan dosen pendamping. ”Namun setelah mendapat pelatihan tersebut, mahasiswa dapat mengganti judul usaha yang akan dibuatnya dari usulan awal, atau membuat kelompok usaha baru, bahkan dapat mengajukan bisniss plan lebih dari satu” tambah dosen FE tersebut. Selanjutnya berdasarkan hasil seleksi awal dan seleksi akhir akan diambil mahasiswa sebanyak 14 dari FIP, 15 dari FBS, 11 dari FMIPA, 14 dari FT, 8 dari FIS dan 15 dari FE, total ada 88 mahasiswa. Mahasiswa yang lolos seleksi, masing-masing akan diberi modal usaha sebesar 8 juta, 60% untuk dana operasional dan 40% untuk dana pendampingan, monitoring dan diskusi. Modal tersebut harus dikembalikan untuk keberlanjutan usaha mahasiswa Unesa selanjutnya. Aplikasi dari progam tersebut mahasiswa-mahasiswa tersebut mengerjakan usahanya selama tiga (3) bulan dengan monitoring dan evaluasi selam 3 minggu sekali oleh fakultas. ”Jadi kelanjutan progam ini benar-benar dipantau”jelas dosen yang akrab dipanggil pak Pur iti dengan serius. Output yang diharapkan dari progam ini adalah Unesa sebagai rintisan pusat pengembangan kewirausahaan di fakultas masing-masing dan terjadi kesepakatan model pengembangan kewirausahaan di Unesa.

Fithri Amaliyah

Revitalisasi Keluarga Berencana, MoU Unesa dengan BKKBN Pusat

Salah satu syarat suatu Perguruan Tinggi yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) yaitu menggalang kerjasama sebanyak mungkin dengan berbagai instansi. Rabu (8/3), Unesa kembali melakukan MoU dengan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Konsep MoU dikemas melalui kuliah umum oleh mantan Menkesra Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A., Ph.D. yang dilaksanakan di ruang sidang FMIPA pukul 13.00 WIB. Beberapa orang kenamaan turut serta hadir dalam kuliah umum yang diusung oleh LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Unesa, yaitu Prof. Supari Muslim selaku ketua LPM, Drs. H. Moh. Is selaku ketua BKKBN provinsi Jawa Timur, dan Prof. Nariyo dosen undangan dari Universitas Airlangga.


Acara yang bertemakan “Pemberdayaan Masyarakat untuk Menurunkan Kemiskinan di Indonesia (Peran Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Pemberdayaan)” ini kali pertama dilaksanakan di Jawa Timur, dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi Unesa karena acara ini perdana digelar di tingkat Perguruan Tinggi atau Universitas setelah sebelumnya telah berhasil menyentuh Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Yogyakarta. Sengaja memang dipilih Universitas Negeri eks IKIP dengan alasan bahwa diharapkan para mahasiswa supaya mampu secara aktif mensosialisasikan program ini. Sebagian besar mahasiswa yang mengikuti kuliah ini adalah mahasiswa nonkependidikan yang menempuh Kuliah Kerja Nyata (KKN).


Ditemui selesai acara, Prof Supari mengatakan bahwa sebenarnya kuliah ini masih bersifat sebagai kuliah pengantar. Lebih lanjut ditegaskan bahwa akan ada keberlanjutan dari acara ini mengingat antusiasme mahasiswa yang besar hingga banyak diantaranya yang tidak mendapatkan tempat duduk dan terpaksa mengikuti perkuliahan dari luar ruangan. Selain itu, acara yang dijadwalkan dapat berskala waktu lebih dari dua SKS itu harus puas dijalankan hanya satu jam saja meskipun telah didukung oleh setion tanya-jawab interaktif.


Hal menarik yang menjadi daya pemikat perkuliahan ini yaitu smart solution yang diberikan oleh Prof. Haryono. Misalnya saja upaya penanganan buta aksara dalam masyarakat feodal yang dapat dilakukan melalui KKN model Tematik yang dilakukan seara estafet dan berkala yaitu setiap tahun. Beberapa upaya untuk mencerdaskan bangsa lainnya juga dapat dilakukan melalui efektivasi dan pengarahan terhadap ibu-ibu rumah tangga untuk melakukan kegiatan yang positif pada malam hari, misalnya dengan pembentukan komunitas baca aktif. Hal ini dilakukan guna menekan angka pertumbuhan penduduk sebagai perwujudan dari revitalisasi keluarga berencana.


Wahyu Nurul Hidayati

Kamis, 12 Maret 2009

Unesa BLU ke-8 di Indonesia

Setelah lima bulan sejak pengusulan proposal Badan Layanan Umum (BLU) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), akhirnya akhir Februari ini Unesa secara resmi menjadi BLU. Peresmian itu dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Keuangan (Depkeu). Unesa menjadi BLU yang ke-8 di lingkungan Depdiknas setelah Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS).

“Di antara 84 PTN yang ada di Indonesia, Unesa merupakan perguruan tinggi ke-8 yang telah diresmi menjadi BLU. Sampai saat ini masih ada 9 perguruan tinggi yang telah berubah menjadi BLU. Perguruan tinggi ke-9 itu adalah Universitas Mulawarman (Unmul),” ucap Drs. Purwohandoko, M.M., Ketua Penyusun Proposal BLU Unesa. Berubahnya status Unesa menjadi Badan Layanan Umum ini berdampak pada berubahnya pola perencanaan keuangan, pelayanan, dan tata kelola universitas.

Di antara tiga skala prioitas tersebut yang akan dijadikan prioitas utama setelah berubahnya Unesa menjadi BLU ini adalah pola perencanaan keuangan. Drs. Purwohandoko, M.M., berkata “Selama ini Unesa mengunakan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam perencanaan keuangan. Pada sistem ini penggunaan dana berdasarkan anggaran yang telah ditetapkan pada akhir tahun dan tidak dapat menambah anggaran pada pertengahan tahun berikutnya karena dana yang bisa dimanfaatkan hanyalah dana yang sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan. Selain itu, birokrasi keuangannya sangat rumit, karena uang mahasiswa yang ditarik melalui SPP dan SDP harus disetorkan ke negara terlebih dahulu dan proses pengambilannya kembali pun cukup rumit. Berbeda dengan sistem BLU, pengelolaan keuangan berdasarkan tujuan, aktivitas, efisiensi, dan produktivitas kegiatan. Penggunaan uang lebih fleksibel karena tidak perlu menyetorkan uang mahasiswa pada negara. Jadi uang tersebut dapat langsung dikelola oleh universitas dengan memerhatikan efisiensi dan produktivitasnya. Dengan sistem ini, universitas dituntut untuk memikirkan biaya pengeluaran dan keuntungannya. Sedapat mungkin pada setiap program kegiatan harus mendapatkan laba. Nah laba inilah yang nantinya digunakan untuk menambah kualitas layanan pada civitas akademika.”

Bayu Dwi Nurwicaksono

Rusunawa bagi Mahasiswa Unesa


Memiliki kampus beratmosfir akademik yang kondusif dan bermutu merupakan hal yang dapat menunjang terbentuknya SDM yang cerdas dan mampu berkompetensi sesuai dengan visi Unesa 2005-2015. Hal ini ternyata mendapat dukungan positif dari pemerintah. Sesuai dengan amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah (2005-2009) yaitu dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak, sehat, aman dan terjangkau, Menteri Perumahan Rakyat, Drs.M.Yusuf Asy'ari, Ak.M.Si., merencanakan pembangunan Rusunawa di Indonesia dan dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa maka Unesa merupakan salah satu universitas yang mendapat kesempatan untuk pembangunan Rusunawa yang dikhususkan bagi mahasiswa ini.

Pada 5 Februari 2009, Unesa memulai pembangunan rusunawa yang rencananya akan dibangun twinblock (2 blok) dengan 5 tingkat pada setiap blok yang berkapasitas 2000 orang ini akan selesai pada bulan Mei 2009. Tentang penggunaan rusunawa tersebut, saat dikonfirmasikan pada Pembantu Rektor III Unesa, Prof. Dr. I Nyoman Adika, M.S., “Rencananya rusunawa ini akan dijadikan asrama bagi mahasiswa baru mulai angkatan tahun mendatang, jadi konsepnya mahasiswa baru nantinya diwajibkan untuk tinggal setahun di rusunawa dengan tujuan pembekalan serta pembinaan mental, agama, budi pekerti, moral, dan sikap dalam bermasyarakat. ”Rusunawa bertingkat lima ini, konsepnya pada lantai dasar akan dijadikan pusat kegiatan.” Jadi semua kegiatan yang berhubungan dengan pengenalan tentang kampus, pembinaan mental dan pembelajaran tentang bersikap dalam masyarakat luas, semua kegiatan tersebut akan dilakukan pada lantai satu rusunawa.

Ditanyakan mengenai kapasitas rusunawa yang belum balance dengan jumlah mahasiswa baru, ia memberikan penjelasan, “Untuk saat ini memang akan diselesaikan satu blok dulu dengan kapasitas 2000 mahasiswa. Tentunya dengan kapasitas tersebut, belum mencukupi untuk kebutuhan seluruh mahasiswa Unesa sehingga untuk menempati rumah susun tersebut akan diadakan seleksi masuk dan diutamakan untuk mahasiwa yang kurang mampu secara financial.” Hal tersebut rencanya akan diberlakukan untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2009/2010 mendatang.

Dengan mengingat adanya resiko disetiap perubahan seperti halnya pembangunan Rusunawa Mahasiswa Unesa. Salah satu yang terpenting adalah penjagaan keamanan. Dalam hal ini ia menjelaskan, ”Untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan seperti terjadinya peredaran/sarang narkoba dan lain hal yang tidak diinginkan, maka aspek kontrol baik dari pengelola maupun aparat harus dilakukan ketat, begitu juga untuk seleksi penghuninya.”

Rusunawa yang beranggaran 9 milyar rupiah tersebut dibangun tepat di belakang Masjid Baitul Makmur 2 yang terletak dikampus Lidah Wetan. Tentunya akan memberikan dampak pada Masjid pasca terbangunnya rusunawa mahasiswa. Berikut ini adalah pendapat tentang pembangunan rusunawa mahasiswa dari taqmir masjid Baitul Makmur 2, Drs. H. M. Husni Abdullah, ”Harapan saya dengan adanya rusunawa mahasiswa tersebut, fungsi masjid dapat digunakan secara maksimal dan rencananya akan ada kerjasama dengan diadakan bimbingan agama untuk para mahasiswa muslim yang tinggal di rusunawa.” Ia menjelaskan konsep pembinaan agama yang terkait dengan pembinaan mental, budi pekerti, moral, dan sikap dalam bermasyarakat yang sesuai dengan ajaran agama. Pembinaan kerohanian itu nantinya akan dibimbing oleh para mahasiswa senior yang ada di UKKI. Ia juga berharap, dengan adanya rusunawa tersebut, semoga masjid tidak lengang lagi seperti yang terlihat selama ini. Hal ini terbukti, dikarenakan letak masjid yang jaraknya berjauhan dengan fakultas-fakultas yang berada dalam kawasan Kampus Lidah Wetan, sedangkan pada fakultas-fakultas tersebut (FIP, FBS, FIK) telah disediakan mushola bahkan hampir disetiap jurusan telah tersedia mushola sehingga mahasiswa jarang beribadah di Masjid Baitul Makmur 2 kecuali jika ada acara-acara khusus saja.

Putri Diyanti

Rabu, 11 Maret 2009

FKGS Bantu Perbaiki Kualitas Guru Sejarah di Jawa Timur


Pergantian tahun sering kali bersamaan dengan pergantian kepengurusan baru, tidak terkeculi di Unesa. Para aktivis di beberapa kegiatan seperti BEM dan DLM biasanya menyelenggarakan program-pragram sebagai upaya masa akhir jabatan. Salah satu program yang dijalankan oleh BEM-J Pendidikan Sejarah masa jabatan 2008-2009 adalah mengadakan Forum Komunikasi Guru Sejarah (FKGS) yang dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2009. Ada 35 sekolah se-Jawa Timur yang hadir dan dua orang narasumber yaitu Prof. Aminuddin Kasdi yang menerangkan detail kesejarawanan dan Drs. Agus Suprijono, M. Hum yang mengupas kependidikan secara tuntas.

FKGS merupakan acara kali pertama yang dicetuskan oleh BEM-J Pendidikan Sejarah. Forum ini selain dilaksanakan dalam rangka BEM Project juga dalam rangka sosialisasi metode pengajaran sejarah untuk membuka cakrawala para guru sejarah yang selama ini kurang dalam mengembangkan teaching method. Demikian penegasan Reni selaku ketua panitia bahwa FKGS lebih diorientasikan pada pembenahan metode pengajaran, penggunaan media belajar, dan perkembangan info-info up to date yang berkenaan dengan sejarah.

Pada umumnya para guru menyadari bahwa teaching method yang selama ini dilakukan perlu diadakan perombakan dan peningkatan meskipun sudah banyak sekolah terutama sekolah di perkotaan yang sudah menggunakan teknik pengajaran yang lebih bervariasi. Disamping itu dengan adanya acara ini image yang menekankan bahwa sejarah identik dengan pelajaran “menghafal dan membosankan” dapat segera diubah. Setidaknya dapat ditingkatkan ketertarikan siswa terhadap sejarah dan ditumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan esensi sejarah di dalamnya.

Forum ini mendapat simpati tidak hanya dari pihak sekolah dengan mengirimkan guru-guru sejarah guna mengikutinya, tetapi juga dari pemerhati pendidikan dan guru-guru sejarah khususnya. Antusiasme para guru terlihat melalui pertanyaan-pertanyaan yang begitu banyak dilontarkan. Agaknya mereka sangat haus pengetahuan sehingga dengan adanya FKGS ini para guru tersebut merasa sangat terbantu untuk meningkatkan pengajaran sejarah di sekolah-sekolah yang berada di Jawa timur khususnya yang berada di daerah yang masih minim akan ketersediaan fasilitas pendidikan. Keadaan ini sering menghambat proses belajar-mengajar. Hal ini juga ditegaskan oleh salah seorang guru yang berasal dari Jatirogo, Tuban bahwa FKGS merupakan acara yang sangat edukatif.

Tentunya banyak manfaat yang berhasil diraih dengan adanya Forum Komunikasi Guru Sejarah (FKGS). Diharapkan dengan keberhasilan acara ini akan lebih banyak muncul dan bertumbuhkembang peningkatan terhadap metode-metode pengajaran sejarah, media pembelajaran maupun informasi-informasi yang up to date, terutama yang disosialisasikan melalui penggunaan ICT. Misalnya melalui jurnal-jurnal atau blog-blog di internet sehingga memudahkan dan memepercepat akses dan koordinasi. Selain itu para guru sejarah juga akan mendapatkan wadah khusus untuk keseragaman pengembangan bahan ajar seperti pembuatan silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pengajaran). Mereka yang sudah hadir pada akhirnya akan memperoleh sertifikat, sejumlah buku sejarah seperti Memahami Sejarah karya Prof. Aminuddin Kasdi, Napak Tilas Mpu Prapanca, dan softcopy bahan ajar untuk selanjutnya dikembangkan di sekolah masing-masing.

Wahyu Nurul Hidayati

Kunjungan SMAN 1 Kesamben Jombang

Hingga tahun 2009 ini Unesa tidak henti-hentinya berbenah diri dengan melakukan pembenahan baik melalui pembangunan fasilitas fisik seperti gedung dan infra struktur maupun nonfisik melalui berbagai perlombaan akademik dan semiloka. Tahun ini Unesa memfokuskan diri untuk melakukan soialiasi ke masyarakat secara besar-besaran. Selain melalui media-media massa dan elektronik, Unesa juga menyelenggarakan open house. Sebelumnya telah digelar seminar promosi di FBS (Fakultas Bahasa dan Seni) dalam rangka Dies Natalis ke-44 yang juga mengangkat tema tentang sosialisasi Unesa. Salah satu instansi yang turut berpartisipasi yaitu SMA Negeri 1 Kesamben, Jombang yang melakukan kunjungan ke Unesa di Kampus Ketintang (19/1).

Ditemui di tempat kerjanya di Humas, Sudiarto Dwi Basuki, S.H. selaku pembawa acara, mengatakan bahwa kunjungan ini dilakukan dalam rangka menggali informasi mengenai Unesa secara keseluruhan. Informasi yang diberikan berupa deskripsi mendetail mengenai kelembagaan Unesa. Deskripsi tersebut meliputi eksplanasi yang berkaitan dengan bangunan fisik seperti kampus, gedung perkuliahan dan lembaga-lembaga di dalamnya, dan prosedur penerimaan mahasiswa baru.

Acara yang diselenggarakan di ruang sidang gedung Lembaga Penelitian itu menginformasikan semua tentang Unesa dengan narasumber Dr. Suhartono, M.Pd. Acara berlangsung dari pukul 08.00-11.00 WIB. Peserta terdiri atas 52 orang siswa dari program jurusan IPA maupun IPS. Lebih lanjut juga dijelaskan informasi penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2009/2010 yang dapat ditempuh melalui jalur SNMPTN, PMDK Prestasi, PMDK Kelas Internasional (FMIPA Kependidikan), Kemitraan baik kelembagaan maupun mandiri, Profesional Prestasi, SPMB Umum I dan II, Profesional Umum I dan II, serta alih jenjang.

Dengan adanya kunjungan ini diharapkan siswa pada khususnya dan sekolah pada umumnya mampu mengetahui dan memahami lebih dalam Unesa. Poin pentingnya terutama untuk memperkenalkan dan menyosialisasikan bahwa Unesa tidak hanya sebagai civitas akademik yang hanya melahirkan tenaga pendidik seperti guru dan dosen tetapi juga mampu mencetak tenaga-tenaga terampil pada bidangnya.

Wahyu Nurul Hidayati